Perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi

BAB I
PENDAHULUAN


Penulisan karya ilmiah merupakan salah satu ciri pokok kegiatan perguruan tinggi.  Melalui penulisan karya ilmiah, anggota masyarakat akademik pada suatu perguruan tinggi dapat mengkomunikasikan informasi baru, gagasan, kajian, dan hasil penelitian.  Untuk mendukung kegiatan ilmiah tersebut diperlukan suatu pedoman tentang penulisan karya ilmiah.  Pedoman penulisan karya ilmiah ini memberikan petunjuk tentang cara menulis skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, makalah, dan laporan penelitian.

SKRIPSI, TESIS, DAN DISERTASI
Skripsi, tesis, dan disertasi merupakan karya ilmiah dalam suatu bidang studi yang ditulis oleh mahasiswa Program Sarjana (S1), Program Magister (S2), dan Program Doktor (S3) pada akhir studinya.  Karya ilmiah ini merupakan salah satu persyaratan untuk menyelesaikan program studi mereka yang dapat ditulis berdasarkan hasil penelitian lapangan, hasil kajian pustaka, atau hasil kerja pengembangan (proyek).
Yang dimaksud skripsi, tesis, dan disertasi hasil penelitian lapangan adalah jenis penelitian yang berorientasi pada pengumpulan data empiris di lapangan.  Ditinjau dari pendekatan yang digunakan, penelitian lapangan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Penelitian kuantitatif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif.  Pendekatan ini berangkat dari suatu kerangka teori, gagasan para ahli, maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahan-pemecahannya yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan.  Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik-kontekstual melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrument kunci.  Penelitian kualitatif bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.  Proses dan makna (perspektif subyek) lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif.  Ciri-ciri penelitian kualitatif mewarnai sifat dan bentuk laporannya.  Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri naturalistik yang penuh keotentikan.
Yang dimaksud dengan kajian pustaka adalah telaah yang dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu pada penelaahan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka yang relevan.  Telaah pustaka semacam ini biasanya dilakukan dengan cara mengumpulkan data atau informasi dari berbagai sumber pustaka yang kemudian disajikan dengan cara baru dan atau untuk keperluan baru.  Dalam hal ini bahan-bahan pustaka itu diperlakukan sebagai sumber ide untuk menggali pemikiran atau gagasan baru, sebagai bahan dasar untuk melakukan deduksi dari pengetahuan yang telah ada, sehingga kerangka teori baru dapat dikembangkan atau sebagai dasar pemecahan masalah.
Yang dimaksud kerja pengembangan adalah kegiatan yang menghasilkan rancangan atau produk yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah-masalah actual.  Dalam hal ini, kegiatan pengembangan ditekankan pada pemanfaatan teori-teori, konsep-konsep, prinsip-prinsip, atau temuan-temuan penelitian untuk memecahkan masalah.  Skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil kerja pengembangan menuntut format dan sistematika yang berbeda dengan skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis berdasarkan hasil penelitian, sebab karakteristik kegiatan pengembangan dan kegiatan penelitian tersebut berbeda.  Kegiatan penelitian pada dasarnya berupaya menguji jawaban yang diajukan terhadap suatu permasalahan, sedangkan kegiatan pengembangan berupaya menerapkan temuan atau teori untuk memecahkan suatu permasalahan.

Perbedaan Skripsi, Tesis, dan Disertasi
Secara umum, perbedaan antara skripsi, tesis, dan disertasi dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek kuantitatif dan aspek kualitatif.  Dari aspek kuantitatif, secara literal dapat dikatakan bahwa disertasi lebih berat bobot akademisnya daripada tesis dan tesis lebih berat bobot akademisnya daripada skripsi.  Ketentuan ini hanya dapat diberlakukan untuk jenis karya ilmiah yang sama (sama-sama hasil penelitian kuantitatif atau sama-sama hasil kualitatif) dan dalam bidang studi yang sama pula (misalnya sama-sama tentang bahasa atau sama-sama tentang ekonomi).  Artinya, disertasi mencakup bahasan yang lebih luas daripada skripsi.  Namun ukuran kuantitas ini tidak dapat diberlakukan jika skripsi, tesis, dan disertasi dibanding-bandingkan antarbidang studi atau antarjenis penelitian.  Oleh karena itu perbedaan skripsi, tesis, dan disertasi biasanya tidah hanya dilihat dari aspek kuantitatif, tetapi lebih banyak dilihat dari aspek kualitatif.
Pada dasarnya, aspek-aspek kualitatif yang membedakan skripsi, tesis, dan disertasi dapat dikemukakan secara konseptual, namun sulit untuk dikemukakan secara operasional.  Berikut dikemukakan aspek-aspek yang dapat membedakan skripsi, tesis, dan disertasi, terutama yang merupakan hasil penelitian kuantitatif.

Aspek Permasalahan
Penulis disertasi dituntut untuk mengarahkan permasalahan yang dibahas dalam disertasinya agar temuannya dapat memberikan sumbangan ’asli’ bagi ilmu pengetahuan, sedangkan penulis tesis hanya dihimbau atau diharapkan dapat menghasilkan sesuatu yang memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan.  Sumbangan yang demikian itu tidak dituntut dari penulis skripsi.
Identifikasi masalah untuk skripsi mungkin cukup didasarkan atas informasi dari koran, majalah, buku, jurnal, laporan penelitian, seminar, atau keadaan lapangan, akan tetapi identifikasi masalah untuk tesis--terlebih lagi untuk disertasi--perlu didasarkan atas teori-teori yang berasal dari sejumlah hipotesis yang telah teruji.  Masalah yang dikaji dalam skripsi cenderung pada masalah-masalah yang bersifat penerapan ilmu, sedangkan dalam tesis dan disertasi masalah-masalah yang dikaji harus cenderung ke arah pengembangan ilmu.

Aspek Kajian Pustaka
Dalam mengemukakan hasil kajian pustaka, penulis skripsi hanya diharapkan untuk menjelaskan keterkaitan antara penelitian yang dilakukan dengan penelitian-penelitian lain dengan topik yang sama.  Penulis tesis tidak hanya diharapkan mengemukakan keterkaitannya saja, tetapi juga harus menyebutkan secara jelas persamaan dan perbedaan antara penelititannya dengan penelitian lain yang sejenis.  Penulis disertasi diharapkan dapat (a) mengidentifikasi posisi dan peranan penelitian yang sedang dilakukan dalam konteks permasalahan yang lebih luas; (b) mengemukakan pendapat pribadinya setiap kali membahas hasil-hasil penelitian lain yang dikajinya; (c) menggunakan kepustakaan dari disiplin ilmu lain yang dapat memberikan implikasi terhadap penelitian yang dilakukan; dan (d) memaparkan hasil pustakanya dalam kerangka berpikir yang konseptual dengan cara yang sistematis.
Pustaka yang dijadikan sumber acuan dalam kajian pustaka pada skripsi seyogyanya menggunakan sumber pertama dan dapat juga menggunakan terjemahannya, namun pustaka yang menjadi bahan acuan dalam tesis diharapkan berasal dari sumber-sumber pertama (hasil-hasil penelitian dalam laporan penelitian, seminar hasil penelitian, dan jurnal-jurnal penelitian).  Untuk disertasi, penggunaan sumber pertama merupakan keharusan.

Aspek Metodologi Penelitian
Penulis skripsi dituntut untuk menyebutkan apakah sudah ada upaya untuk memperoleh data penelitian secara akurat dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang valid.  Bagi penulis tesis, penyebutan adanya upaya saja tidak cukup.  Dia harus menyertakan bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan untuk menyatakan bahwa instrumen pengumpul data yang digunakan cukup valid.  Bagi penulis disertasi, bukti-bukti validitas instrumen pengumpul data harus dapat diterima sebagai bukti-bukti yang tepat.
Dalam skripsi, penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi dalam penumpulan data tidak harus dikemukakan, sedangkan dalam tesis dan terlebih lagi dalam disertasi penyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengumpulan data harus dikemukakan, beserta alasan-alasannya, sejauh mana penyimpangan tersebut, dan sejauh mana penyimpangan tersebut masih dapat ditoleransi.
Asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam skripsi tidak harus diverifikasi dan tidak harus disebutkan keterbatasan keberlakuannya, sedangkan asumsi-asumsi yang dikemukakan dalam tesis, terlebih lagi dalam disertasi, harus diusahakan verifikasinya dan juga harus dikemukakan keterbatasan keberlakuannya.
Dalam penelitian kuantitatif, skripsi dapat mencakup satu variabel saja, tesis dua variabel atau lebih, sedangkan disertasi harus mencakup lebih dari dua variabel.  Namun kriteria ini harus disesuaikan dengan permasalahan yang dikaji.  Dalam penelitian kuatitatif, skripsi dapat ditulis berdasarkan studi kasus tunggal dan dalam satu lokasi saja, sedangkan tesis dan terutama disertasi seyogyanya didasarkan pada studi multikasus dan multisitus.

Aspek Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang dipaparkan dalam kesimpulan skripsi harus didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan.  Dalam tesis dan disertasi, hasil penelitian yang dikemukakan, selain didukung oleh data yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan, juga harus dibandingkan dengan hasil penelitian lain yang sejenis.  Oleh karena itu dalam tesis dan disertasi perlu ada bab tersendiri yang menyajikan pembahasan hasil penelitian.  Bab yang berisi pembahasan hasil penelitian diletakkan sesudah bab yang berisi sajian hasil analisis data, sebelum bab yang berisi kesimpulan dan saran.
Pengajuan saran pada bagian akhir skripsi tidak harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil penelitian, sedangkan saran-saran yang dikemukakan dalam tesis dan disertasi harus dilengkapi dengan argumentasi yang didukung oleh hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan.
Hasil penelitian skripsi dan tesis yang ditulis dalam bentuk artikel hendaknya mengarah untuk dapat diterbitkan dalam ilmiah yang ’bermutu’, sedangkan hasil penelitian disertasi harus memenuhi kualifikasi layak terbit dalam jurnal ilmiah yang ’bermutu’.

Aspek Kemandirian
Selain didasarkan pada keempat aspek tersebut, skripsi, tesis, dan disertasi juga dapat dibedakan berdasarkan tingkat kemandirian mahasiswa dalam proses pelaksanaan penelitian dan penulisan naskah karya ilmiah.  Secara umum dapat dinyatakan bahwa proses penelitian dan penulisan disertasi lebih mandiri daripada tesis, dan proses penelitian dan penulisan tesis lebih mandiri daripada skripsi.  Secara kuantitatif dapat diilustrasikan sebagai berikut:
untuk disertasi kira-kira 90% dari naskah tersebut adalah karya asli mahasiswa penulisnya, sedangkan sisanya (10%) merupakan cerminan dari bantuan, bimbingan, serta arahan para dosen pembimbing.  Untuk tesis presentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada disertasi; dan untuk skripsi, presentase karya asli mahasiswa bisa lebih kecil daripada tesis.

ARTIKEL, MAKALAH, DAN LAPORAN PENELITIAN
Artikel ilmiah adalah suatu tulisan yang dibuat oleh mahasiswa pada akhir program studinya yang didasarkan pada skripsi, tesis, dan disertasi yang telah ditulisnya.  Oleh karena skripsi, tesis, dan disertasi yang ditulis oleh mahasiswa dapat berupa hasil kegiatan penelitian lapangan (kuantitatif dan kualitatif), kajian pustaka, atau pengembangan proyek, artikel ilmiah yang disusun oleh mahasiswa juga merupakan tulisan yang diangkat dari hasil penelitian lapangan, kajian pustaka, atau pengembangan proyek, artikel ilmiah yang disusun oleh mahasiswa juga merupakan tulisan yang diangkat dari hasil penelitian lapangan, kajian pustaka, atau pengembangan proyek.  Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam: artikel hasil penelitian dan artikel non penelitian.  Artikel ilmiah yang ditulis oleh mahasiswa diarahkan untuk dapat diterbitkan dalam jurnal ilmiah.
Makalah adalah karya ilmiah yang merupakan hasil pelaksanaan tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen.  Sebagai karya ilmiah, secara umum makalah juga memiliki ciri-ciri yang sama dengan jenis karya ilmiah yang lain, yaitu antara lain bersifat obyektif, tidak memihak, berdasarkan fakta (bukan emosi atau perasaan), sistematis, dan logis.
Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang berisi paparan tentang proses dan hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan penelitian.

KODE ETIK PENULISAN KARYA ILMIAH
Kode etik adalah seperangkat norma yang perlu diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah.  Norma ini berkaitan dengan pengutipan dan perujukan terhadap bahan yang digunakan, dan penyebutan sumber data atau informan.  Dalam penulisan karya ilmiah, penulis harus secara jujur menyebutkan rujukan terhadap bahan atau pikiran yang diambil dari sumber lain.  Pemakaian bahan atau pikiran dari suatu sumber atau orang lain yang tidak disertai dengan rujukan dapat diidentikkan dengan pencurian.
Penulis karya ilmiah harus berupaya menghindarkan diri dari tindak kecurangan yang lazim disebut plagiat.  Plagiat merupakan tindak kecurangan yang berupa pengambilan tulisan atau pemikiran dari orang lain yang diaku sebagai hasil tulisan atau hasil pemikirannya sendiri.  Dalam menulis karya ilmiah, rujuk-merujuk dan kutip-mengutip merupakan kegiatan yang tidak dapat dihindari.  Kegiatan ini amat dianjurkan, sebab perujukan dan pengutipan akan membantu perkembangan ilmu.
Dalam menggunakan bahan dari suatu sumber (misalnya instrumen, bagan, gambar, dan tabel), penulis wajib meminta ijin kepada pemilik bahan tersebut.  Permintaan ijin sebaiknya dilakukan dalam bentuk tertulis.  Jika pemilik bahan tidak dapat dijangkau, penulis harus menyebutkan sumbernya dengan menjelaskan apakah bahan tersebut diambil secara utuh, diambil sebagian, dimodifikasi, atau dikembangkan.
Nama sumber data atau informan, terutama dalam penelitian kualitatif, tidak boleh dicantumkan apabila pencantuman nama tersebut dapat merugikan sumber data atau informan.  Sebagai gantinya, nama sumber data atau informan dinyatakan dalam bentuk kode.
BAB II
SKRIPSI, TESIS, dan DISERTASI


Skripsi, tesis, dan disertasi dalam pedoman ini dikelompokkan menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan hasil penelitian kuantitatif, hasil penelitian kualitatif, dan hasil kajian pustaka.

1. Hasil Penelitian Kuantitatif
Hal-hal yang disajikan dalam laporan penelitian ini pada umumnya bersifat kompleks; mulai dari isi kajian terhadap berbagai teori yang bersifat substantif dan mendasar sampai kepada hal-hal yang bersifat operasional teknis, maka laporan penelitian ini perlu diatur sedemikian rupa sehingga pembaca laboran dapat dengan mudah menemukan setiap bagian yang dicarinya dan dapat memahaminya secara tepat.  Laporan hasil penelitian yang ditulis dalam bentuk skripsi, tesis, dan disertasi terutama ditujukan untuk konsumsi masyarakat akademik sehingga cenderung bersifat teknis, berisi tentang apa yang diteliti secara lengkap, mengapa hal itu diteliti, cara melakukan penelitian, hasil-hasil yang diperoleh, dan kesimpulan penelitian.  Isinya disajikan secara lugas dan obyektif.  Format laporan cenderung baku, mengikuti ketentuan dari perguruan tinggi atau statu kelompok masyarakat akademik.
Berdasarkan pemikiran di atas, isi dan sistematika skripsi, tesis, dan disertasi dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.
Bagian Awal
Halaman Sampul
Halaman Judul
Lembar Persetujuan (dari para pembimbing)
Lembar Persetujuan (dari para penguji, ketua jurusan, dan dekan)
Abstrak (untuk disertasi perlu ditambahkan abstrak dalam bahasa Inggris)
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Tabel
Daftar Gambar
Daftar Lampiran
Daftar Lainnya

Bagian Inti
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
D. Hipotesis Penelitian (jika ada)
E. Kegunaan Penelitian
F. Asumsi Penelitian (jika diperlukan)
G. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
H. Definisi Istilah atau Definisi Operasional (jika diperlukan)
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. ........................
B. ........................
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
B. Populasi dan Sampel
C. Instrumen Penelitian
D. Pengumpulan Data
E. Analisis Data
BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Data
B. Pengujian Hipotesis
C. Diskusi
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Bagian Akhir
Daftar Rujukan
Lampiran-lampiran
Riwayat Hidup

Tidak semua penelitian kuantitatif memerlukan hipotesis penelitian.  Penelitian kuantitatif yang bersifat eksploratoris dan deskriptif tidak membutuhkan hipotesis.  Oleh karen itu, subbab hipotesis penelitian tidak harus ada dalam skripsi, tesis, atau disertasi hasil penelitian kuantitatif.
Secara prosedural hipotesis penelitian diajukan setelah peneliti melakukan kajian pustaka, karena hipotesis penelitian adalah rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang diperoleh dari kajian pustaka.  Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.  Namun secara teknis, hipotesis penelitian dicantumkan dalam BAB I (BAB PENDAHULUAN) agar hubungan antara masalah yang diteliti dan kemungkinan jawabannya menjadi lebih jelas.  Atas dasar inilah, maka di dalam latar belakang masalah sudah harus ada paparan tentang kajian pustaka yang relevan dalam bentuknya yang ringkas.
 Rumusan hipotesis hendaknya bersifat definitif atau direksional.  Artinya, dalam rumusan hipotesis tidak hanya disebutkan adanya hubungan atau perbedaan antar-variabel, melainkan telah ditunjukkan sifat hubungan atau keadaan perbedaan itu.  Contoh: Ada hubungan positif antara tingkat kecerdasan siswa SMP dengan prestasi belajar mereka dalam matapelajaran Matematika.  Jika dirumuskan dalam bentuk perbedaan menjadi: Siswa SMP yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi memiliki prestasi belajar yang lebih tinggi dalam matapelajaran Matematika dibandingkan dengan yang mempunyai tingkat kecerdasan sedang.
Rumusan hipotesis yang baik hendaknya: (a) menyatakan pertautan antara dua variabel atau lebih, (b) dituangkan dalam bentuk kalimat pernyataan, (c) dirumuskan secara singkat, padat, dan jelas, serta (d) dapat diuji secara empiris.
Asumsi penelitian tidak harus selalu ada di dalam skripsi, tesis, dan disertasi.  Asumsi penelitian adalah anggapan-anggapan dasar tentang suatu hal yang dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian.  Misalnya, peneliti mengajukan asumsi bahwa sikap seseorang dapat diukur dengan menggunakan skala sikap.  Dalam hal ini ia tidak perlu membuktikan kebenaran hal yang diasumsikannya itu, tetapi dapat langsung memanfaatkan hasil pengukuran sikap yang diperolehnya.  Asumsi dapat bersifat substantif atau metodologis.  Asumsi substantif berhubungan dengan permasalahan penelitian, sedangkan asumsi metodologis berkenaan dengan metodologi penelitian.
Keterbatasan penelitian tidak harus selalu ada, namun seringkali diperlukan agar pembaca dapat menyikapi temuan penelitian sesuai dengan kondisi yang ada.  Keterbatasan penelitian menunjuk kepada suatu keadaan yang tidak bisa dihindari dalam penelitian.  Keterbatasan yang sering dihadapi menyangkut dua hal, yaitu (1) keterbatasan ruang lingkup kajian yang terpaksa dilakukan karena alasan-alasan prosedural, teknik penelitian, ataupun karena faktor logistik, dan (2) keterbatasan penelitian berupa kendala yang bersumber dari adat, tradisi, etika, dan kepercayaan yang tidak memungkinkan bagi peneliti untuk mencari data yang diinginkan.
Penegasan istilah diperlukan apabila diperkirakan akan timbul perbedaan pengertian atau kekurang-jelasan makna seandainya penegasan istilah tidak diberikan.  Istilah yang diberi penegasan adalah istilah-istilah yang berhubungan dengan konsep-konsep pokok yang terdapat di dalam skripsi, tesis, dan disertasi serta berkaitan erat dengan masalah yang diteliti atau variabel penelitian.  Penegasan istilah disampaikan secara langsung, dalam arti tidak diuraikan asal-usulnya dan lebih dititikberatkan pada pengertian yang diberikan oleh penulis.  Penegasan istilah dapat berbentuk definisi operasional, yaitu definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal yang didefinisikan yang dapat diamati.  Secara tidak langsung definisi operasional akan menunjuk alat pengambil data yang cocok digunakan.  Contoh definisi operasional dari variabel ’prestasi aritmatika’ adalah kompetensi dalam bidang aritmatika yang meliputi menambah, mengurangi, mengalikan, membagi, dan menggunakan desimal.  Penyusunan definisi operasional perlu dilakukan karena dengan teramatinya konsep atau konstruk yang diselidiki akan memudahkan pengukurannya.  Disamping itu, penyusunan definisi operasional memungkinkan orang lain melakukan hal yang serupa sehingga apa yang dilakukan oleh peneliti terbuka untuk diuji kembali oleh orang lain.
Dalam kegiatan ilmiah, dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu masalah haruslah menggunakan pengetahuan ilmiah (ilmu) sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan agar diperoleh jawaban yang dapat diandalkan.  Untuk penulisan tesis dan disertasi, teori yang dikaji tidak hanya teori yang mendukung, tetapi juga teori yang bertentangan dengan kerangka berpikir peneliti.  Kajian pustaka memuat dua hal pokok, yaitu (1) deskripsi teoretis tentang obyek (variabel) yang diteliti dan (2) kesimpulan tentang kajian yang antara lain berupa argumentasi atas hipotesis yang diajukan dalam bab yang mendahuluinya.  Argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagai landasan penelitian dengan hasil kajian mengenai temuan penelitian yang relevan.  Pembahasan terhadap hasil penelitian tidak dilakukan terpisah dalam satu subbab tersendiri.  Bahan-bahan kajian pustaka dapat diambil dari berbagai sumber seperti jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar dan diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain.  Akan lebih baik jika kajian teoretis dan telaah terhadap temuan-temuan penelitian didasarkan pada sumber kepustakaan primer, yaitu bahan pustaka yang isinya bersumber pada temuan penelitian.  Sumber kepustakaan sekunder dapat dipergunakan sebagai penunjang.  Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, (1) prinsip kemutakhiran (kecuali untuk penelitian historis), dan (2) prinsip relevansi.  Dengan prinsip kemutakhiran, peneliti dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu itu dipandang paling representatif.  Prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang sedang diteliti.
Rancangan penelitian diartikan sebagai strategi mengatur latar penelitian agar peneliti memperoleh data yang valid sesuai dengan karakteristik variabel dan tujuan penelitian.  Dalam penelitian eksperimental, rancangan penelitian yang dipilih adalah yang paling memungkinkan peneliti untuk mengendalikan variabel-variabel lain yang diduga ikkut berpengaruh terhadap variabel-variabel terikat.  Pada penelitian noneksperimental, bahasan dalam subbab rancangan penelitian berisi penjelasan tentang jenis penelitian yang dilakukan ditinjau dari tujuan dan sifatnya; apakah penelitian eksploratoris, deskriptif, eksplanatoris, survei, atau yang lain.
Istilah populasi dan sampel tepat digunakan jika penelitian yang dilakukan memakai sampel sebagai subyek penelitian, tetapi jika sasaran penelitiannya adalah seluruh anggota populasi, akan lebih cocok menggunakan istilah subyek penelitian.  Penjelasan yang akurat tentang karakteristik populasi penelitan perlu diberikan agar jumlah sampel dan cara pengambilannya dapat ditentukan secara tepat sehingga sampel yang dipilih benar-benar representatif (dapat mencerminkan keadaan populasinya secara cermat).  Jika keadaan sampel semakin berbeda dengan karakteristik populasinya, maka semakin besarlah kemungkinan kekeliruan dalam generalisasinya.  Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan populasi dan sampel adalah (1) identifikasi dan batasan-batasan tentang populasi atau subyek penelitian, (2) prosedur dan teknik pengambilan sampel, dan (3) besarnya sampel.
Sebuah instrumen penelitian yang baik harus memenuhi persyaratan reliabilitas.  Untuk tesis, terutama disertasi harus ada bagian yang menjelaskan proses validasi instrumen.  Hal yang perlu diungkapkan dalam instrumen penelitian adalah cara pemberian skor atau kode terhadap masing-masing butir pertanyaan/pernyataan.  Untuk alat dan bahan, harus disebutkan secara cermat spesifikasi teknis dari alat yang digunakan dan karakteristik bahan yang dipakai.
Dalam pengumpulan data menguraikan (a) langkah-langkah yang ditempuh dan teknik yang dipakai untuk mengumpulkan data, (b) kualifikasi dan jumlah petugas yang terlibat dalam proses pengumpulan data, serta (c) jadwal waktu pelaksanaan pengumpulan data.
Pemilihan jenis analasis data sangat ditentukan oleh jenis data yang dikumpulkan dengan tetap berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai atau hipotesis yang hendak diuji.  Oleh karena itu, yang perlu diperhatikan dalam analisis data adalah ketepatan teknik analisisnya, bukan kecanggihannya.  Disamping penjelasan tentang jenis atau teknik analisis data yang digunakan, perlu juga dijelaskan alasan pemilihannya.  Apabila teknik analisis data yang dipilih sudah cukup dikenal, maka pembahasannya tidak perlu dilakukan secara panjang lebar dan sebaliknya.
Dalam deskripsi data untuk masing-masing variabel dilaporkan hasil penelitian yang telah diolah dengan teknik statistik deskriptif, seperti distribusi frekuensi yang disertai dengan grafik yang berupa histogram, nilai rerata, simpangan baku, atau yang lain.  Temuan penelitian yang sudah disajikan dalam bentuk angka-angka statistik, tabel, maupun grafik tidak dengan sendirinya bersifat komunikatif.  Penjelasan terhadap hal tersebut masih diperlukan.  Namun pembahasan pada tahap ini perlu dibatasi pada hal-hal yang bersifat faktual, tidak mencakup pendapat pribadi (interpretasi) peneliti.
Pemaparan tentang hasil pengujian hipotesis pada dasarnya tidak berbeda dengan penyajian temuan penelitian untuk masing-masing variabel.  Hipotesis penelitian dapat dikemukakan sekali lagi dalam bab ini, termasuk hipotesis nolnya, dan masing-masing diikuti dengan hasil pengujiannya serta penjelasan atas hasil pengujian itu secara ringkas dan padat.  Penjelasan terhadap hasil pengujian hipotesis ini terbatas pada interpretasi atas angka statistik yang diperoleh dari perhitungan statistik.
Tujuan pembahasan adalah (1) menjawab masalah penelitian, atau menunjukkan bagaimana tujuan penelitian dicapai, (2) menafsirkan temuan-temuan penelitian, (3) mengintegrasikan temuan penelitian ke dalam kumpulan pengetahuan yang telah mapan, (4) memodifikasi teori yang ada atau menyusun teori baru, dan (5) menjelaskan implikasi-implikasi lain dari hasil penelitian, termasuk keterbatasan temuan-temuan penelitian.  Dalam upaya menjawab masalah penelitian atau tujuan penelitian, harus disimpulkan secara eksplisit hasil-hasil yang diperoleh.  Sementara itu, penafsiran terhadap temuan penelitian dilakukan dengan menggunakan logika dan teori-teori yang ada.  Membandingkan hasil penelitian yang diperoleh dengan temuan penelitian lain yang relevan akan mampu memberikan taraf kredibilitas yang lebih tinggi terhadap hasil penelitian kita.  Tentu saja suatu temuan akan menjadi lebih dipercaya bila didukung oleh hasil penelitian orang lain.  Pembahasan akan lebih menarik jika di dalamnya dicantumkan juga temuan orang lain yang berbeda, dan pada saat yang sama peneliti mampu memberikan penjelasan teoretis maupun metodologis bahwa temuannya memang lebih akurat.  Pembahasan hasil penelitian juga bertujuan untuk menjelaskan perihal modifikasi teori atau menyusun teori baru.  Hal ini penting jika penelitian yang dilakukan bermaksud menelaah teori.  Jika teori yang dikaji ditolak sebagian hendaknya dijelaskan bagaimana modifikasinya, dan penolakan terhadap seluruh teori haruslah disertai dengan rumusan teori baru.
Isi kesimpulan penelitian harus terkait langsung dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.  Dengan kata lain, kesimpulan penelitian terikat secara substantif terhadap temuan-temuan penelitan yang mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan.  Kesimpulan juga dapat ditarik dari hasil pembahasan, namun yang benar-benar relevan dan mampu memperkaya temuan penelitian yang diperoleh.
Saran yang diajukan hendaknya selalu bersumber pada temuan penelitian, pembahasan, dan kesimpulan hasil penelitian.  Saran hendaknya tidak keluar dari batas-batas lingkup dan implikasi penelitian.  Saran yang baik dapat dilihat dari rumusannya yang bersifat rinci dan operasional, artinya jika orang lain hendak melaksanakan saran itu, ia tidak mengalami kesulitan dalam menafsirkan atau melaksanakannya.  Selain itu, saran yang diajukan hendaknya telah spesifik, ditujukan kepada perguruan tinggi, lembaga pemerintah maupun swasta, atau pihak lain yang dianggap layak.

2. Hasil Penelitian Kualitatif
Penelitian kualitatif berusaha mengungkapkan gejala secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks (holistik-kontekstual) melalui pengumpulan data dari latar alami dengan memanfaatkan diri peneliti sebagai instrumen kunci.  Penelitian semacam ini bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif.  Proses dan makna dari sudut pandang subyek lebih ditonjolkan dalam penelitian ini. Ciri-ciri penelitian kualitatif tersebut mewarnai sifat dan bentuk laporannya.  Oleh karena itu, laporan penelitian kualitatif disusun dalam bentuk narasi yang bersifat kreatif dan mendalam serta menunjukkan ciri-ciri alamiahnya.
Laporan penelitian kualitatif harus memiliki fokus yang jelas.  Fokus dapat berupa masalah, obyek evaluasi, atau pilihan kebijaksanaan.  Laporan penelitian kualitatif harus memiliki struktur dan bentuk yang koheren yang dapat memenuhi maksud yang tercermin dalam fokus penelitian.  Gaya penulisan laporan penelitian kualitatif tidak menggunakan model tunggal.  Gaya penulisan dapat bersifat formal, informal, atau gabungan keduanya.  Laporan yang ditulis dengan gaya formal memuat hal-hal pokok pada bagian awal, kemudian menunjukkan aspek-aspek yang dianggap penting yang dipaparkan beserta contoh-contoh dari data.  Laporan bergaya informal berisi paparan sebuah cerita yang diakhiri dengan kesimpulan.
Format Tetap
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian (Latar Belakang)
B. Fokus Penelitian (Dapat dirinci menjadi rumusan masalah dan tujuan penelitian)
C. Landasan Teori
D. Kegunaan Penelitian
BAB II METODOLOGI PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
B. Kehadiran Peneliti/Lokasi Penelitian
C. Sumber Data
D. Prosedur Pengumpulan Data
E. Analisis Data
F. Pengecekan Keabsahan Temuan
G. Tahap-tahap Penelitian
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
Format Semi Bebas
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian (Latar Belakang)
B. Fokus Penelitian (Dapat dirinci menjadi rumusan masalah dan tujuan penelitian)
C. Manfaat Penelitian
BAB II KAJIAN PUSTAKA
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
BAB V PEMBAHASAN
BAB VI PENUTUP

Format Bebas
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian (Latar Belakang)
B. Fokus Penelitian (Dapat dirinci menjadi rumusan masalah dan tujuan penelitian)
C. Metodologi Penelitian (termasuk lokasi, dsb.)
D. Landasan Teori
BAB II (Bab ini dan seterusnya memuat hasil-hasil penelitian yang diperoleh.  Judul dan isi masing-masing bab disesuaikan dengan topik dan hasil penelitian, termasuk pembahasannya).  Bab inti dari skripsi, tesis, atau disertasi hasil penelitian kualitatif diakhiri dengan Bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

3. Hasil Kajian Pustaka
Skripsi, tesis, dan disertasi hasil kajian pustaka merupakan penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang memaparkan hasil kajian pustaka dan hasil olah pikir peneliti mengenai status masalah/topik kajian.  Skripsi, tesis, dan disertasi jenis ini berisi satu topik yang di dalamnya memuat beberapa gagasan dan/atau proposisi yang berkaitan yang harus didukung oleh data yang diperoleh dari sumber pustaka.
Sumber pustaka untuk bahan kajian dapat berupa jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, diskusi ilmiah, atau terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain.  Bahan-bahan pustaka harus dibahas secara kritis dan mendalam dalam rangka mendukung gagasan dan/atau proposisi untuk menghasilkan kesimpulan dan saran.  Sistematika skripsi, tesis, dan disertasi hasil kajian pustaka terbagi atas tiga bagian utama, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.  Bagian inti dari sistematika penulisan jenis ini adalah:
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Kajian
D. Kegunaan Kajian
E. Metode Kajian
F. Definisi Istilah
BAB II dan bab-bab selanjutnya masing-masing berisi gagasan pokok diteruskan dengan kajian mendalam dan diakhiri dengan rangkuman pembahasan dan implikasi.  Judul bab disesuaikan dengan materi yang dibahas.  Bab inti dari skripsi, tesis, dan disertasi diakhiri dengan Bab Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.









BAB III
PETUNJUK PENAMPILAN SKRIPSI


Petunjuk mengenai penampilan skripsi ini mencakup dua hal: jenis dan ukuran kertas, dan pengetikan.
Jenis dan Ukuran Kertas
Kertas yang digunakan untuk menulis skripsi adalah kertas HVS putih dengan berat 70 atau 80 gram dan ukuran A4 (29,5 cm x 21 cm).
Pengetikan
Bagian ini menguraikan tata cara pengetikan skripsi yang meliputi: jenis dan ukuran huruf, margin dan spasi, nomor halaman, bab dan sub-bab, nomor dan judul tabel dan ilustrasi, dan tanda baca.
Jenis dan Ukuran Huruf
Jika skripsi diketik dengan mesin ketik manual, pengetikan harus menggunakan mesin ketik dengan huruf Pica.  Namun, sedapat mungkin skripsi diketik dengan komputer.  Pengetikan dengan komputer menggunakan huruf Times New Roman ukuran 12 (fakultas/jurusan dapat menentukan font lain yang bentuknya hampir sama dengan huruf tersebut).
Margin dan Spasi
Ketentuan batas-batas penempatan tulisan untuk seluruh bagian skripsi sama.
Margin atas : 4 cm
Margin kiri : 4 cm
Margin kanan : 3 cm
Margin bawah : 3 cm
Pengetikan setiap alinea dimulai setelah ketukan ke-5 dengan ketentuan spasi sebagai berikut:
Teks skripsi : 2 spasi, kecuali kutipan diatur tersendiri
Antara teks dan nomor halaman : 2 spasi
Antara judul bab dan baris pertama teks/judul Sub-bab : 4 spasi
Antara judul Sub-bab dan baris pertama/terakhir teks : 2 spasi
Nomor Halaman
Penomoran halaman-halaman pada bagian pengantar skripsi (halaman sampul dalam hingga abstrak) menggunakan angka Romawi kecil.
Pada halaman sampul dalam, halaman judul, lembar persetujuan dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak ditulis.
Setiap bab dimulai pada halaman baru dan halaman pertama setiap bab tidak diberi nomor halaman tetapi diperhitungkan.
Semua halaman lain dalam naskah, termasuk halaman bibliografi dan lampiran, diberi nomor halaman dengan angka Arab pada bagian kanan atas dengan jarak 2 (dua) spasi dari baris pertama naskah.
Bab dan Sub-bab
Kata BAB yang ditulis dengan huruf besar semua dan diikuti nomor bab dengan angka Romawi besar dicantumkan pada jarak 3 (tiga) spasi di atas judul bab.
Nomor dan judul bab ditulis dengan huruf besar dan dicantumkan pada bagian tengah atas dan baris selanjutnya berjarak enam spasi dari judul bab.
Setiap Sub-bab diberi nomor dengan angka Arab secara berjajar.  Setiap kata pada judul Sub-bab dimulai dengan huruf besar, kecuali kata penghubung dan kata depan.
Judul sub-bab ditulis pada jarak 4 (empat) spasi dari baris sebelumnya dan 3 (tiga) spasi dari baris berikutnya.
Setiap alenia baru dimulai setelah lima ketukan dari margin kiri.
Contoh:










BAB I
JUDUL BAB

1.1 Judul Sub-bab
5 ketuk ..…………………………………………………………………..…………..
…………………………………………………………………………………..…..
1.1.1 Judul Sub-sub-bab
..………………………………………………………………………………
..…………………………………………………………………………………….
1.1.1.1 Judul Peringkat Berikutnya
………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………
1.1.1.2 Judul
………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………
1.1.2 Judul Sub-Sub-bab
………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………
1.1.3 Judul Sub-Sub-bab
………………………………………………………………………………..
………………………………………………………………………………………
1.2 Judul Sub-bab
………………………………………………………………………………..
…………………………..…………………………………………………………..


Nomor dan Judul Tabel dan Ilustrasi
Semua bentuk ilustrasi disajikan sebelum pembahasan penjelas.
Nomor dan judul tabel ditulis pada posisi tengah di atas tabel.
Tabel diberi nomor dengan menggunakan angka Arab, tabel untuk tiap bab mulai dengan nomor baru
Penjelasan notasi tabel dicantumkan di bawah tabel.
Judul tabel yang lebih dari satu baris diketik dengan spasi tunggal.
Contoh:

Tabel 2.2 Pengaruh Suhu terhadap Pertumbuhan Bakteri dan Kualitas Penyimpanan Air Susu Segar
Suhu penyimpanan air susu (OC) Plate count/ml
setelah 24 jam Kualitas penyimpanan (jam)
5 3 x 103 > 75
10 1 x 104 30
15 2 x 103 19
20 5 x 106 11
30 1 x 109 5
Sumber: den Berg, 1987

Cara pemberian nomor ilustrasi (gambar, grafik, foto, peta, diagram) sama dengan cara pemberian nomor tabel, tetapi nomor dan judul ilustrasi ditulis pada posisi tengah di bawah ilustrasi.
Semua bentuk ilustrasi tidak boleh dipotong menjadi dua bagian (dua halaman) jika memang bisa ditempatkan pada satu halaman.
Nomor bahan ilustrasi ditulis dengan angka Arab untuk menunjukkan bab dimana tabel itu dimuat dan nomor urutnya dalam bab yang bersangkutan.
Judul bahan ilustrasi ditulis dengan huruf besar bagi huruf pertama setiap kata kecuali kata penghubung dan baris kedua judul bahan ilustrasi ditulis sejajar dengan huruf awal judul
Bahan ilustrasi berjarak 3 (tiga) spasi dari baris naskah sebelumnya dan sesudahnya.
Contoh:









    Gambar 4.1 Distribusi Pemakaian Energi pada Gedung Komersil

Tanda Baca
Pengetikan tanda baca dan tanda-tanda lain mengikuti Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
a. Koma (,), titik-koma (;), titik dua (:), tanda tanya (?), tanda seru (!), dan tanda prosen (%) diketik rapat dengan huruf yang mendahuluinya.  Perhatikan letak tanda baca yang tidak baku pada contoh sebelah kiri, dan bandingkan dengan yang baku di sebelah kanan:
Tidak Baku Baku
Inventarisasi , identifikasi , dan kegiatan silangan dilakukan … Inventarisasi, identifikasi, dan kegiatan silangan dilakukan …
Turunan tersebut teryata juga fertil . Turunan tersebut ternyata juga fertil.
… dari sekitarnya ; namun bukti tentang … … dari sekitarnya; namun bukti tentang …
Tidak Baku Baku
… dirumuskan sebagai berikut : … dirumuskan sebagai berikut:
Bagaimana cara … menggunakan metode biseksi ? Bagaimana cara … menggunakan metode biseksi?
Hasilnya sangat berbeda ! Hasilnya sangat berbeda!
Korelasi ini tidak signifikan pada taraf signifikansi 5 %. Korelasi ini tidak signifikansi pada taraf signifikansi 5%.
b. Tanda penghubung (-), tanda pemisah (--), dan garis miring (/) diketik rapat dengan huruf yang mendahului dan mengikutinya.  Perhatikan pula contoh cara pengetikan tanda hubung yang tidak baku di sebelah kiri, dan yang baku di sebelah kanan:
Tidak Baku Baku
Mutasi gen terjadi berulang – ulang Mutasi gen terjadi berulang-ulang
1994 – 1996 1994-1996
… dari bahasa pertama -- bahasa yang diperoleh anak antara usia dua hingga lima tahun -- ke dalam bahasa kedua … dari bahasa pertama--bahasa yang diperoleh anak antara usia dua hingga lima tahun--ke dalam bahasa kedua
Apabila kandungan cairan / air … Apabila kandungan cairan/air …
c. Tanda petik (“   “) dan tanda kurung diketik rapat dengan huruf dari kata yang diapit.  Contoh:
Tidak Baku Baku
Istilah “ mengorganisasi “ mengacu pada suatu tindakan … Istilah “mengorganisasi” mengacu pada suatu tindakan …
d. Tanda sama-dengan (=), lebih besar (>), lebih kecil (<), tambah (+), kurang (-), kali (x), dan bagi (:) diketik dengan jarak satu ketukan dengan huruf atau angka yang mendahului dan mengikutinya.  Contoh:
Tidak Baku Baku
y=f(x) Y = f(x)
p>0,01 P > 0,01
p<0,01 P < 0,01
a:b=c A : b = c
c=a+b c = a + b



BAB IV
BAGIAN PENUTUP


Bagian penutup skripsi terdiri atas:
1. Daftar Pustaka
2. Lampiran

4.1 Daftar Pustaka
Daftar pustaka adalah daftar sumber yang berupa buku, artikel dalam jurnal, artikel dalam majalah, artikel dalam surat kabar, dan makalah yang disajikan dalam pertemuan, yang digunakan sebagai bahan rujukan dalam penulisan skripsi.  Daftar ini disusun secara alfabetis dan kronologis tanpa nomor urut.  Baris pertama dari setiap sumber ditulis mulai margin kiri, sedang baris kedua dan seterusnya ditulis masuk 5 ketukan.  Setiap sumber diketik dengan spasi tunggal, tetapi antar sumber diketik dengan spasi ganda.
Cara penulisan daftar pustaka mengikuti model yang digunakan oleh American Psychological Association (APA) dengan beberapa perubahan berdasarkan pertimbangan praktis.  Keterangan untuk setiap sumber terdiri atas empat komponen pokok dengan urutan sebagai berikut: nama pengarang, tahun penerbitan, judul, tempat dan nama penerbit.  Masing-masing komponen tersebut dipisahkan dengan tanda titik (.), sedangkan tanda titik dua (:) dipakai untuk memisahkan tempat dan nama penerbit.
Nama pengarang dimulai dengan nama belakangnya kemudian diikuti dengan tanda koma (,). Setelah tanda koma ditulis nama lainnya tanpa mengubah susunannya jika nama pengarang itu lebih dari dua kata.  Gelar tidak perlu dicantumkan.  Contoh cara menulis nama pengarang:
Nama Ditulis sebagai
F.P. van Delden van Delden, F.P.
Van Delden Van Delden
K.N. de Klungel de Klungel, K.N.
P.M.C. ‘t Hoen ‘t Hoen, P.M.C.
W. van Braun van Braun, W.
Samuel Johnson Jr. Johnson Jr., Samuel
J.T. le Clarque le Clarque, J.T.
Eugene Laris Alanis Alanis, Eugene Laris
J. Peres Y. Fernandez Fernandez, J. Peres Y.
Jose Rosquilo Rapaso Rapaso, Jose Rosquilo
J. da Silva da Silva, J.
Wee Cho Hou Wee, Cho Hou
Mely Tan Tan, Mely
Van-Te Chow Chow, Van-Te
Kiyoshi Muto Muto, Kiyoshi
Bambang Hidayat Hidayat, Bambang
Titik Widyawati Utami Utami, Titik Widyawati
R.M. Subekti Subekti, R.M.
I Made Sugita Sugita, I Made
Andi Hakim Nasution Nasution, Andi Hakim

Judul buku, nama jurnal, nama majalah, dan nama surat kabar digarisbawahi atau ditulis dengan huruf miring, sedangkan judul artikel ditulis biasa dan huruf pertama setiap kata dari judul artikel ditulis dengan huruf besar kecuali kata sambung dan kata depan.  Beberapa contoh cara penulisan sumber dalam daftar pustaka diberikan berikut ini:
4.1.1 Buku
a. Buku dengan satu pengarang
Contoh:
Ahern, M.B. 1971. The Problem of Evil. London: Rotledge & Kegan Paul
Suwardi, Eddy. 1982. Aspek-aspek Kepemimpinan dalam Manajemen Operasional. Bandung: Alumni.

b. Buku dengan dua pengarang atau lebih
Tanda ‘&’ dipakai untuk menghubungkan nama dari dua pengarang.  Nama pengarang yang kedua ditulis biasa (tidak perlu dimulai dengan nama belakangnya).
Contoh:
Verhaak, C.& R. Haryono Imam. 1995. Filsafat Ilmu Pengetahuan: Telaah atas Cara Kerja Ilmu-ilmu. Jakarta: Gramedia.

Apabila jumlah pengarang lebih dari dua, maka hanya satu nama yang ditulis, diikuti dengan ‘dkk.’ untuk pengarang Indonesia atau ‘et al’ untuk pengarang asing.
Contoh:
Tampubolon, D.P. dkk. 1979. Tipe-tipe Semantik Kata Kerja Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Charlton, S.E. et al. 1989. Women, the State and Development. New York: State University of New York Press.

c. Buku dengan editor
Nama editor diikuti dengan ‘Ed.’ ditulis dalam kurung.
Contoh:
Halim, Amran (Ed.). 1976. Politik Bahasa Nasional. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Apabila sumber hanya merupakan satu bab atau satu artikel dari sebuah buku, maka setelah nama pengarang, tahun penerbitan dan judul bab atau artikel dilanjutkan dengan kata ‘Dalam’ yang diikuti oleh nama editor (ditulis biasa, tidak dimulai dengan nama belakangnya), judul buku, nomor halaman bab atau artikel tersebut, tempat dan nama penerbit.
Contoh:
Waxer, P. 1979. Therapist Training in Nonverbal Behavior. Dalam A. Wolfgang (Ed.). Nonverbal Behavior: Applications and Cultural Implications, 221-240. New York: Academic Press.

d. Buku terjemahan
Setelah judul buku, tulisan langsung diikuti dengan nama penterjemah yang ditulis dalam kurung (ditulis biasa, tidak dimulai dengan nama belakangnya).
Contoh:
Barnhouse, Ruth Tiffany. 1988. Identitas Wanita: Bagaimana Mengenal dan Membentuk Citra Diri (A.G. Lunandi, penerjemah). Yogjakarta: Penerbit Kanisius.

e. Buku karya suatu organisasi atau lembaga
Nama organisasi tersebut menempati posisi pengarang.
Contoh:
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1978. Pedoman Penulisan Laporan Penelitian. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Apabila organisasi atau lembaga tersebut juga yang menerbitkan buku itu, maka pada posisi penerbit ditulis ‘pengarang’.
Contoh:
Commission on Intergovernmental Relations. 1955. Report to the President. Washington, DC: Pengarang.

f. Buku dengan edisi tertentu
Setelah judul buku, tulisan diikuti dengan keterangan tentang edisinya (edisi revisi, edisi internasional atau edisi ke berapa) yang ditulis dalam kurung.
Contoh:
Leahy, Louis. 1989. Manusia, Sebuah Misteri: Sintesa Filosofis tentang Makhluk Paradoksal (edisi revisi). Jakarta: Gramedia.

g. Buku yang terdiri atas beberapa jilid
Setelah judul buku, tulisan diikuti dengan keterangan tentang jilid berapa yang ditulis dengan menggunakan angka Arab dan diletakkan dalam kurung.

Contoh:
Badudu, J.S. 1980. Membina Bahasa Indonesia Baku (jilid 2). Bandung: Pustaka Prima.

h. Buku yang tidak diterbitkan
Ungkapan ‘karya tidak diterbitkan’ ditulis menggantikan tempat dan nama penerbit.
Contoh:
Hardison, R. 1983. On the Shoulders of Giants. Karya tidak diterbitkan.

4.1.2 Artikel dalam Jurnal
Setelah judul artikel, tulisan diikuti dengan nama jurnal yang digarisbawahi atau ditulis dengan huruf miring, nomor jilid (volume) atau bulan penerbitan, dan nomor halaman artikel tersebut.
Contoh:
Harvey, O.L. 1980. The Measurement of Handwriting Considered as a Form of Expressive Movement. Quarterly Review of Biology, 55, 231-249.
Blake, Rick. 1985. Minorities: Reaching the World’s Ninth Largest Market. Public Relations Journal, June, 30-31.

4.1.3 Artikel dalam Majalah
Setelah nama pengarang, tulisan diikuti dengan tanggal penerbitan majalah yang ditulis dalam kurung.  Kemudian, ditulis judul artikel (diketik biasa tanpa tanda petik dan huruf pertama setiap kata pertama ditulis dengan huruf besar kecuali kata sambung dan kata depan), nama majalah (diketik dengan huruf miring atau bergaris bawah), dan nomor halaman artikel tersebut.
Contoh:
Anderson, K. (5 September 1983). Private Violence. Time, 18-19.

4.1.4 Artikel dalam Surat Kabar
Cara penulisan artikel dalam surat kabar sama seperti artikel dalam majalah.
Contoh:
Mulkan, Abdul Munir. (24 November 1995). Guru dalam Pendidikan Kemanusiaan. Kompas, 4.

4.1.5 Makalah yang disajikan dalam Pertemuan
Setelah judul makalah (ditulis biasa, tidak digarisbawahi atau ditulis dengan huruf miring, dan huruf pertama setiap kata dari judul ditulis dengan huruf besar kecuali kata depan dan kata sambung), tulisan diikuti dengan ungkapan ‘makalah dibacakan dalam’, dan nama pertemuan (digarisbawahi atau ditulis dengan huruf miring), lembaga penyelenggara, tempat dan tanggal pertemuan diselenggarakan.
Contoh:
Karim, Z. 1987. Tata Kota di Negara-negara Berkembang. Makalah dibacakan dalam Seminar Tata Kota, BAPPEDA Jawa Timur, Surabaya, 1-2 September.

4.2 Lampiran
Lampiran memuat bagian-bagian yang tidak termasuk dalam laporan pokok, misalnya instrumen penelitian, rekaman data, komputasi statistik, dan lain-lain.  Apabila jumlah lampiran lebih dari satu, maka setiap lampiran diberi nomor dengan angka Arab dan ditulis di sisi kanan atas.

















BAB V
PENULISAN KUTIPAN DAN RUJUKAN


5.1 Penulisan Kutipan
Guna menunjang pembahasan dalam suatu skripsi, penulis dapat merujuk pada fakta, konsep, dan gagasan yang dikutip dari berbagai macam sumber seperti buku dan artikel.  Kutipan ini dapat berupa kutipan tidak langsung (ide berasal dari sumber lain namun diungkapkan dengan kata-kata penulis sendiri) atau kutipan langsung.

5.1.1 Kutipan tidak langsung
Kutipan tidak langsung ditulis sebagai bagian dari teks tanpa tanda petik (“ “).
Contoh:
Rahardjo (1988) berpendapat bahwa kualitas produk suatu perusahaan sangat ditentukan oleh tingkat sumber daya manusia pengelola perusahaan.

Ilmu tidak berkembang secara kumulatif dan evolusioner, melainkan secara revolusioner (Kuhn, 1962)

5.1.2 Kutipan langsung
Kutipan langsung yang panjangnya kurang dari 5 baris ditulis sebagai bagian dari teks dengan diapit oleh tanda petik (“ “).
Contoh:
It is assumed that “reading depends on the background knowledge of the reader” (Smith, 1987: 35)

Sejalan dengan pendapat di atas, Hadiwibowo (1991) mengemukakan bahwa “kesahihan penampilan bukanlah kesahihan dalam arti yang sesungguhnya”.

Uhlenbeck (1982) menjelaskan bahwa “ditinjau dari sudut morfologis, statusnya sebagai awalan tidak dapat diragukan, yaitu bentuk-bentuk tersebut hanya dapat ditemukan jika bentuk-bentuk itu langsung diikuti sebuah morfem akar”.

Kutipan langsung yang panjangnya 5 baris atau lebih ditulis dalam format blok dengan spasi tunggal, masuk 3 ketukan dari margin kiri, dan tanpa tanda petik (“ “).
Contoh:
Sjahrir (1996: 22) juga menyoroti masalah tersebut:
atas pandangan tersebut adalah jika spesialisasi kerja menjadi suatu ciri khas perkembangan ekonomi, maka pembagian kerja semata-mata berdasarkan umur dan jenis kelamin tidak lagi menjadi tuntutan dari perkembangan ekonomi tersebut.  Padahal berbagai studi mengenai peranan perempuan dalam ekonomi menunjukkan bahwa pembagian kerja berdasarkan laki-laki atau perempuan ini tetap bertahan dan dalam beberapa hal tertentu bahkan semakin menguat.

Apabila dalam kutipan langsung ada bagian kalimat yang dihilangkan, maka pada bagian tersebut diberi tiga titik (…).
Contoh:
Demikian pula kemampuan seorang manajer dalam mengelola sumber daya manusia, karena “sang manajer harus menyusun strategi … dan keluwesannya mengatur sumber dana dan daya manusia sehingga apa yang menjadi sasaran tercapai tanpa pengorbanan berlebihan di pihak manapun” (Poesposoetjipto, 1996).

Corebima (1989) mengemukakan bahwa:
… pendayagunaan plasma nutfah wild type genes pada proses permuliaan dapat memperbaiki gen atau kelompok gen yang diketahui bertanggungjawab atas karakter-karakter buruk pada bibit-bibit budidaya.  Dengan demikian diharapkan kelestarian bibit budidaya yang didukung oleh berbagai karakter unggul dapat terjamin, dan sebagai akibatnya biaya produksi ditekan serta hasil bersih dapat ditingkatkan.

5.2 Penulisan Rujukan
Seperti terlihat pada contoh-contoh di atas, sumber rujukan--baik untuk kutipan tidak langsung maupun kutipan langsung--dicantumkan dalam teks dan bukan dalam bentuk catatan kaki.  Nomor halaman sumber dapat ditulis apabila dirasakan amat perlu.

Contoh:
Menurut Harris (1969) yang diterjemahkan oleh Hidayat (1993: 12) “alat ukur harus memiliki kesahihan empiris”.

Temuan ini mendukung hasil-hasil penelitian terdahulu (Miller, 1970; Hill, 1972; Anderson, 1976; Brown, 1980).

Apabila pengarang terdiri atas dua orang, maka tanda ‘&’ digunakan untuk menghubungkan nama kedua pengarang.
Contoh:
“… dunia ditandai dengan perkembangan IPTEK yang seolah-olah sudah tak terkendali” (Verhaak & Imam, 1995).

Apabila jumlah pengarang lebih dari dua, maka hanya satu nama yang ditulis diikuti dengan ‘dkk.’ Untuk pengarang Indonesia atau ‘et al’ untuk pengarang asing.
Contoh:
… persoalan itu selalu muncul (Noerhadi dkk., 1976) dan …

Words by themselves don’t mean anything, as “their meanings depend on the ideas they evoke in people’s minds, and no two minds are identical” (Mansfield et al, 1991).

Apabila pengarang dan karya yang sama digunakan dalam satu alenia sebagai keterangan, maka pada catatan kedua tidak perlu dicantumkan tahun penerbitan.
Contoh:
In a more recent study, Johnson (1983) found that children were more susceptible … Johnson also found that …

Apabila dari pengarang yang sama digunakan lebih dari satu karya dengan tahun penerbitan yang sama, maka ditambahkan huruf a, b, dan seterusnya pada akhir tahun penerbitan sebagai pembeda.
Contoh:
… seperti telah dikemukakan sebelumnya (Leahy, 1986a) dan dipertegas lagi dalam artikel lain (Leahy, 1986b), kejahatan itu memang suatu yang absurd.




























BAB VI
SISTEMATIKA PENULISAN USULAN PENELITIAN


Sebelum suatu penelitian dilakukan, peneliti perlu menyusun usulan penelitian.  Usulan penelitian merupakan rencana pelaksanaan penelitian yang menguraikan tentang latar belakang masalah, masalah penelitian, mengapa masalah itu perlu diteliti, dan bagaimana penelitian akan dilakukan.  Karena perencanaan yang matang sangat dibutuhkan dalam melaksanakan penelitian, terutama yang menggunakan data empiris, maka usulan penelitian harus secara jelas mengemukakan langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data serta dalam menafsirkan hasil analisis.
Suatu usulan penelitian yang baik sekurang-kurangnya memuat bagian-bagian berikut:
1. Judul
2. Latar Belakang Masalah Penelitian
3. Rumusan Masalah Penelitian
4. Tujuan Penelitian
5. Manfaat Penelitian
6. Tinjauan Pustaka yang Relevan
7. Hipotesis Penelitian (bila ada)
8. Metode dan Prosedur Penelitian
9. Daftar Pustaka
10. Lampiran

6.1 Judul
Judul penelitian hendaknya menggambarkan hakikat penelitian.  Judul harus mencantumkan variabel-variabel pokok yang diteliti serta kata-kata kunci yang menggambarkan hakikat penelitian itu, namun judul tidak boleh terlalu panjang sehingga sukar dimengerti makna yang terkandung di dalamnya.  Dalam penelitian aplikatif atau evaluatif, populasi penelitian boleh dimasukkan dalam judul, sedangkan dalam penelitian yang lebih bersifat penelitian dasar, populasi seyogyanya tidak dicantumkan dalam judul karena dapat membatasi generalisasi hasil penelitian.
6.2 Latar Belakang Masalah Penelitian
6.3 Rumusan Masalah Penelitian
6.4 Tujuan Penelitian
6.5 Manfaat Penelitian
6.6 Tinjauan Pustaka yang Relevan
Bagian ini membahas teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dan ringkasan hasil-hasil penelitian terdahulu yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
6.7 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian dicantumkan hanya bila penelitian yang diusulkan merupakan suatu penelitian untuk menguji hipotesis.
6.8 Metode dan Prosedur Penelitian
Bagian ini menguraikan 4 hal, yakni: rancangan (desain) penelitian, populasi dan sampel, prosedur pengumpulan data, dan teknik analisis data.
6.9 Daftar Pustaka
Bagian ini menyajikan sumber-sumber rujukan yang digunakan untuk menyusun usulan penelitian.  Sumber-sumber ini dapat berupa buku, artikel dari jurnal atau majalah atau surat kabar.
6.10 Lampiran
Hal-hal yang dapat dilampirkan pada usulan penelitian antara lain instrumen penelitian, jadwal pelaksanaan kegiatan penelitian, dan rencana biaya.






KISI-KISI

A. Penulisan Skripsi Uji Hipotesis (Kajian Kuantitatif)

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1.1 Paparan harapan
1.1.2 Paparan kenyataan
1.1.3 Paparan solusi
1.1.4 Rasional tentang solusi
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
1.2.1 Berlandaskan pada latar belakang
1.2.2 Menyebutkan variabel penelitian
1.2.3 Menyebutkan subyek penelitian
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Mengacu pada rumusan masalah
1.3.2 Menyebutkan variabel dan hubungan variabel
1.3.3 Menyebutkan subyek penelitian
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Merumuskan kegunaan bagi perkembangan ilmu
1.4.2 Merumuskan kegunaan praktis (apa bagi siapa dalam hal apa)
1.5 Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian
1.5.1 Rumusan variabel
1.5.2 Rumusan populasi
1.5.3 Rumusan sampel
1.5.4 Rumusan lokasi
1.6 Batasan Istilah
1.6.1 Meliputi konsep dan variabel penelitian
1.6.2 Memudahkan identifikasi jenis data
1.6.3 Memudahkan pengukuran

KAJIAN PUSTAKA
2.1 Mengkaji teori-teori dalam jumlah yang memadai
2.2 Mengkaji teori-teori yang relevan
2.3 Mengkaji teori-teori yang mutakhir
2.4 Menyajikan hasil-hasil penelitian yang relevan
2.5 Menyajikan hasil-hasil penelitian yang mutakhir
2.6 Menyebutkan manfaat setiap teori terhadap penelitian
2.7 Menyebutkan manfaat setiap hasil penelitian terhadap penelitian
2.8 Menyimpulkan hasil-hasil penelitian

METODE PENELITIAN
Menguraikan jenis atau desain penelitian
Menguraikan jenis dan sumber data sesuai dengan tujuan penelitian
Karakterisasi populasi
Karakterisasi sampel
Menguraikan pengambilan sampel
Menguraikan ukuran dan kerepresentatifan sampel
Menguraikan pengembangan instrumen (validasi)
Menguraikan langkah-langkah pengumpulan data
Menyebutkan jumlah dan kualifikasi personel yang terlibat
Menguraikan teknik analisis data yang sesuai dengan jenis data
Menguraikan pengecekan keabsahan temuan

TEMUAN PENELITIAN
4.1 Mendistribusikan bahasan sesuai dengan tujuan penelitian
4.2 Memberikan jawaban (temuan) terhadap masing-masing hipotesis atau tujuan
4.3 Menafsirkan setiap temuan
4.4 Mengintegrasikan temuan ke dalam kumpulan temuan yang telah ada
4.5 Menjelaskan perbedaan atau persamaan temuan-temuan

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Memberikan kesimpulan yang berdasarkan temuan dan pembahasan temuan
5.2 Memberikan saran operasional: siapa harus berbuat apa supaya apa


B. Penulisan Skripsi Non-Uji Hipotesis (Kajian Kualitatif)

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1.1 Paparan harapan
1.1.2 Paparan kenyataan
1.1.3 Paparan solusi
1.1.4 Rasional tentang solusi
1.2 Fokus Penelitian
1.2.1 Rumusan masalah
1.2.2 Alasan bagi setiap rumusan
1.2.3 Manfaat setiap temuan yang akan diperoleh
1.3 Lokasi Penelitian
1.3.1 Karakterisasi lokasi
1.3.2 Pertimbangan pemilihan lokasi
1.4 Kajian Pustaka
1.4.1 Gambaran umum tentang permasalahan
1.4.2 Petunjuk-petunjuk penting pelaksanaan kajian

METODE
2.1 Desain atau pendekatan penelitian
2.2 Kehadiran peneliti
2.3 Instrumentasi
2.4 Data dan sumber data
2.5 Proses pengumpulan data
2.6 Proses pengolahan data
2.7 Pengecekan keabsahan data

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
3.1 Deskripsi data bagi setiap rumusan pertanyaan
3.2 Sajian temuan (pola, tema, tendensi, motif)

PEMBAHASAN
4.1 Keterkaitan antar temuan
4.2 Posisi temuan terhadap temuan-temuan sebelumnya
4.3 Posisi temuan terhadap teori

PENUTUP
5.1 Kesimpulan berdasarkan temuan dan pembahasan
5.2 Tindaklanjut yang disarankan


C. Penulisan Skripsi Pustaka

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
1.1.1 Gambaran umum dari berbagai sumber tentang masalah
1.1.2 Posisi gambaran umum terhadap harapan peneliti
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Deskripsi bahwa masalah belum terpecahkan dalam aspek-aspek tertentu
1.2.2 Rumusan pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab dengan memuat analisis variabel (variabel apa dan hubungan apa)
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Mengacu pada rumusan masalah
1.3.2 Menyebutkan variabel dan hubungan variabel
1.4 Kegunaan Penelitian
1.4.1 Menyebutkan kegunaan bagi pihak-pihak yang relevan
1.4.2 Menyebutkan bidang kegunaan dalam pihak-pihak tersebut
1.5 Metode Penelitian
1.5.1 Menyebutkan kerangka teori: postulat, paradigma, model
1.5.2 Menyebutkan langkah-langkah berdasarkan kerangka teori tersebut
1.6 Definisi Istilah
1.6.1 Menyebutkan konsep-konsep dalam permasalahan
1.6.2 Memudahkan indikasi metodologis

Alternatif model-model pemecahan masalah
Konsep-konsep yang relevan untuk pemilihan alternatif
Sub-konsep pendukung pemecahan masalah

PENUTUP
5.1 Kesimpulan: pernyataan singkat dan jelas tentang temuan
5.2 Saran: tindaklanjut bagi pihak-pihak yang relevan berdasarkan pembahasan temuan



Materi di atas saya ambil dari materi yg diberikan oleh dosen science writing saya di kampus, semoga bisa memberikan kemanfaatan































Komentar